Jumat, 2008 April 11
The Exponent of Adat Religion Jailed?
Rabu, 2007 November 28
Keaslian dan Perubahan atawa Tradisi dan Modernitas
towards the negotiation of change, the former resisting it, the latter embracing it. But
“Tradition”, in the sense of primordial wisdom, is not necessarily resistant to change. The
image of Shiva Nataraja embodies the ideas of both stillness (the fixed, or being) and
movement (the changing, or becoming). “Tradition” is a combination of both these
elements. It is at once static Equilibrium and dynamic Attraction, the classical realism of
transcendence and the romantic idealism of immanence. Man is both a slave of change
(being subject to the processes of time) and its master (being equipped to transcend it,
spiritually). The quest for salvation is, at one level, a quest for peace, the freedom from
change, but at another, it is a quest for creativity and freshness, the freedom from
petrification.
Gue sengaja ngutip kutipan di atas untuk memahami secara arif bahwa segala keaslian yang diwariskan oleh Adat kite, tidak mesti menolak segala perubahan yang dilakukan oleh anak-anak putra Adat itu sendiri. Mereka bukanlah 'pembangkang Adat', bukan pula 'pemberontak' atau 'pembelot', tapi mereka hendak mengadaptasikan Adat dalam bahasa modern.
Adat memang sudah lama mati 'terbunuh' oleh peradaban modern yang datang dari Arab dan dari Eropa. Peradaban Adat sudah lama digantikan dengan peradaban Islam dan peradaban Kristiani (Katolik maupun Protestan) yang datang ke Indonesia. Rumah-rumah ibadat Adat telah roboh dan digantikan Mesjid-Mesjid dan Gereja-Gereja. Jangan sepenuhnya menyalahkan mereka yang telah menyerang Adat, sebab kaum Adat sendiri yang tidak mampu menjaga Adat. Kaum Adat justru memiliki pasukan baru yang terdiri dari generasi muda: generasi yang menyerap segala perubahan baru tapi juga merasa perlu kembali memahami akar Adat mereka. Mereka adalah 'pembaru Adat' tapi juga 'pembaru modernisme yang sesat'. Mereka berdiri di tengah-tengah, mengkritisi Adat dan mengkritisi Modernisme, lalu menemukan segala relevansi dari kedua sumber itu untuk menjawab tantangan hidup manusia Indonesia saat ini. Gue menyebut 'generasi baru' itu dengan sebutan 'generasi Neo-Adat'. Seperti Shiwa Nataraja, generasi baru itu memelihara keaslian yang tak berubah-ubah (Adat) dan menyambut baik perubahan baru; mereka adalah 'pelayan perubahan' tapi sekaligus 'penguasa perubahan'.
Minggu, 2007 Oktober 21
Sekilas Filsafat Etnis Asli Kita (Terakhir)
Logika adalah salah satu cabang ilmu filsafat yang ngebahas soal-soal seperti "apa itu pemikiran atau penalaran?", "bagaimana menalar yang benar?", "apa kriteria menalar yang benar?", "bagaimana menilai penalaran yang benar?", "apa saja batas-batas berpikir atau bernalar?", "apa saja kesalahan berpikir?", "apa hukum-hukum berpikir yang universal?", "bagaimana menyusun argumentasi yang logis?", dan lain-lain. Intinye, logika ialah filsafat berpikir atau filsafat bernalar.
Mamak barajo kapado tungganai,
Tungganai barajo kapado panghulu,
Panghulu barajo kapado mufakat,
Mufakat barajo kapado alua jo patuik,
Alua jo patuik barajo kapado bana,
Bana bardiri dengan sandirinyo.
(Kemenakan dipimpin oleh mamak,
mamak dipimpin oleh tungganai,
tungganai dipimpin oleh penghulu,
penghulu dipimpin oleh mufakat,
mufakat dipimpin oleh mekanisme alam dan kepatutan,
tatanan alam dan kepatutan dipimpin oleh Kebenaran,
Kebenaran berdiri sendiri.)
Sabtu, 2007 Oktober 20
Sekilas Tentang Filsafat Etnis Kita (Bag. 4)
Estetika ialah salah satu cabang ilmu filsafat yang ngebahas soal-soal seperti "apa itu keindahan?", "kapan sesuatu itu disebut indah?", "apa saja kriteria sesuatu dapat disebut indah atau buruk?", "bagaimana cara menilai keindahan?", "apa itu seni?", "kapan sesuatu layak disebut seni?", "bagaimana menilai suatu karya seni?", "kriteria apa yang dipake agar sesuatu dapat disebut seni?", "bagaimana cara menilai selera?", "apa tujuan dari seni?", dan lain-lain. Intinye, estetika ialah filsafat keindahan atau filsafat seni.
Leluhur kite juga dah punya estetika. Awalnye sih, menurut gue, mereka gak sengaja menemukan estetika. Setiap mereka liat fenomena alam yang mendebarkan, mereka kepikiran, lalu mereka memikir-mikirkannya, terbayang-bayang dengannya, lalu saking terpesonanya, mereka mengekspresikannya dengan menggambar atau melukiskannya dalam bentuk gambar. Maka, mulailah mereka melukis atau menggambar di gua-gua, seperti yang bisa kite liat di Gua Pattakere di Sulawesi. Mereka melukis tangan-tangan mereka di dinding gua (persis kayak kite sekarang nyablon). Mereka lalu bereksperimen dengan warna-warna yang mereka temuin dari pohon-pohon, daun-daun atau darah hewan. Dari eksperimen warna, mereka menciptakan tato (seperti di suku Dayak, suku Irian), menciptakan kain tenun, menciptakan pakaian, menciptakan alat perang, menciptakan arsitektur rumah, dan lain-lain.
Ada juga suku yang bereksperimen dengan pahatan-pahatan (seperti suku Dani, suku Asmat, suku Batak-Karo, suku Toraja), sehingga mereka menciptakan seni pahat yang indah dan eksotik, seperti seni patung Mbis suku Asmat, seni hias perahu kayu suku Batak-Karo, dan seni hias rumah Toraja.
Ada juga suku yang bereksperimen dengan gerak-gerak tari (seperti suku Jawa, suku Sunda, suku Aceh, suku Melayu, suku Betawi, suku Dayak, suku Irian, dan lain-lain), sehingga mereka menciptakan tarian-tarian yang gerakannya indah dan eksotik.
Ada juga suku yang bereksperimen dengan irama-irama suara (hampir semua suku asli melakukannya), sehingga mereka menciptakan lagu-lagu bernada indah, menciptakan pantun-pantun berrima, menciptakan syair-syair, puisi-puisi, kakawin, cangkriman, dan lain-lain.
Semua suku asli Indonesia menghasilkan semua 'produk seni indah' itu bukan cuma untuk berindah-indah atau menikmatinya demi kesenangan mereka aja, tapi juga untuk beribadah, berhubungan dengan ruh-ruh nenek moyang (banyak tarian yang mereka ciptakan untuk menghadirkan ruh-ruh leluhur ke dunia), mengingat-ingat leluhur asli mereka, bahkan juga untuk mewariskan nilai-nilai leluhur (jadi, ada unsur edukatifnye, kayak sekolahan hehehe!). Produk pahat dan ukiran Mbis suku Asmat, misalnya, dibuat untuk memuja kesakralan leluhur; Tari Tunggal Penaluan suku Batak adalah tarian pemanggil kekuatan gaib dan penjemput roh-roh pelindung untuk hadir di tempat pemujaan; Gambar bulan dan matahari dalam pahatan Mbis, bukanlah mengekspresikan fenomena bulan dan matahari yang sempat ditangkap oleh mata telanjang manusia Asmat, tapi merepresentasikan Yang Ilahi. Gambar kemaluan lelaki yang dipahat pada pahatan Mbis suku Asmat, misalnya, dipahami sebagai lambang ‘kesuburan’: ‘Langit’ (yang dilambangkan dengan kemaluan lelaki) menurunkan hujan ke ‘Dunia’ (yang dilambangkan dengan kemaluan wanita) dan menyuburkannya, sehingga lahirlah tetumbuhan. Gambar wajah-wajah leluhur yang dipahat pada pahatan suku Asmat juga bukannya cuma dibuat untuk menirukan wajah fisikalnya, tapi untuk membangun hubungan antara ‘yang sementara’ dan ‘yang abadi’(Wiyoso Yudoseputra, Seni Pahat Irian Jaya, h. 59).
Genderang perunggu yang ditemukan di Babakan, di Selayar dan di Pejeng, seluruhnya indah dihias dengan gambar simbolik yang sama: burung pelikan atau bangau Cina. Burung pelikan adalah simbol Yang Ilahi; sesuatu yang terbang di Langit, berasal dari Langit, tempat dimana Yang Ilahi berada. Simbol itu sengaja digambar di atas genderang perunggu, karena sesuai dengan fungsi genderang itu, yaitu, ditabuh dan dipukul dalam upacara ‘minta hujan’. Hujan berasal dari atas, dari Langit, dan burung pelikan adalah ‘Burung Sakral’ dari Langit, yang dapat menyampaikan kepada Tuhan Di Langit untuk mengabulkan permohonan manusia di bumi, dengan menurunkan hujan, yang membawa kesuburan bumi (Jakob Sumardjo, Arkeologi Budaya Indonesia, hh. 116-119).
Gambar ‘perahu’ juga sering digambarkan pada arsitektur rumah di Toraja, rumah-rumahan perahu yang dilabuhkan ke laut pada upacara Labuhan di Jawa, Sunda dan Bali, kain-kain tenun di Lampung, bejana air di Minangkabau, hiasan kepala perempuan Lampung, ukiran kayu di Irian Jaya, perahu kayu di Batak-Karo, perahu kayu dan ukiran-ukiran kayu Beaju-Dayak, ukiran kayu di Alor, motif perahu pada batu nisan di Pulau Tanimbar, dan lain-lain, karena ‘perahu’ dipahami sebagai simbol kendaraan menuju ‘Alam Ruh’. Setiap orang mati, ruhnya akan berpindah ke ‘Lautan Ruh’, yang diantar dengan ‘Perahu’. Karena itu pulalah, orang Toraja menyebut keranda mereka dengan prau.
Tu kan? Gue bilang juga ape, leluhur kite rupanya dah punya estetika yang keren khan??
Kamis, 2007 Oktober 18
Sekilas Tentang Filsafat Etnis Kita (Bag. 3)
Epistemologi ialah salah satu cabang ilmu filsafat yang ngebahas soal-soal seperti "apa itu pengetahuan?", "bagaimana cara manusia menemukan pengetahuan?", "kapan pengetahuan patut disebut benar atau salah?", "apa saja kriteria pengetahuan yang benar?", "apa saja batas-batas pengetahuan manusia?", dan lain-lain.
Leluhur kita dah memikirkan sejenis epistemologi sejak dulu. Tapi, seperti yang dah gue jelasin di awal, mereka kadang gak sempat berpikir pentingnya tulisan, sehingga epistemologi mereka diwariskan lewat tradisi tutur (oral tradition). Tidak semuanya sih yang belom ditulis; ada juga yang udah punya sistem tulisan.
Hampir semua suku asli di Indonesia dah punya kosakata 'tahu' atau 'mengetahui'; satu hal yang menunjukkan bahwa epistemologi sudah dibangun oleh mereka. Menurut penelitian gue terhadap 32 bahasa yang dimiliki 32 'suku-suku kecil' (yakni, suku-suku yang beranggotakan sekitar seribu orang aja), mereka dah punya kosakata 'tahu' atau 'mengetahui' (lebih lengkapnya, baca aje artikel gue di www.indonesianphilosophy.co.nr yang judulnye 'Argumen Morfologis', oce?).
Selain itu, orang Indonesia sendiri (terutama dari suku Melayu) punya istilah 'tahu', yang darinya muncul kata-kata derivatif seperti 'mengetahui', 'pengetahuan', 'ketahuan', 'paling tahu', dan lain-lain. Kata 'tahu' rupanya berasal dari kata dalam bahasa Mikronesia ahu, yang berarti 'altar dari batu alami yang bentuknya datar'. Dalam masyarakat Mikronesia, altar batu datar adalah tempat suci untuk menyembah ruh-ruh leluhur. Kata Mikronesia ahu lalu diadopsi orang Melayu-Kalimantan menjadi au atau ao. Dari orang Kalimantan, kata au atau ao itu lalu disebarkan kepada orang Melayu di Sumatera dan di Jawa, sehingga menjadi tahu. Sejak itu, orang Melayu menyebut 'orang tahu' sebagai 'orang yang selalu meletakkan segalanya ke tempat suci; selalu mengembalikan segalanya kepada Yang Suci, karena tidak memahaminya dengan sempurna dan tak ingin berprasangka'. Jadi, tahu berarti mengakui keterbatasan pengetahuan manusia jika dibandingkan dengan Pengetahuan Yang Benar yang masih banyak dan misterius baginya (Ridwan Saidi, Adat dan Budaya Masyarakat Betawi, Kata Pengantar).
Leluhur suku Minangkabau, misalnya. Mereka menganggap Alam, Hewan, dan Tetumbuhan adalah Guru Segalanya, karena itu mereka mengamat-amati alam semesta dengan panca-indera mereka untuk mengambil pengetahuan yang nantinya digunakan demi kebutuhan mereka. Ingat pepatah mereka: Alam takambang jadi guru (alam semesta yang luas ini menjadi guru).
Mereka udah lama ngegunain panca-indera mereka untuk mengenali, ngalamin, ngerasain, ngelihat, ngerenungin gejala-gejala alamiah di sekitar mereka, dan nyimpulin pengetahuan baru dari gejala-gejala yang udah dikenalin itu. Apa yang terlihat, terasa, teraba, terdengar, terkenali merupakan bahan-bahan inderawiah untuk disimpulkan dengan kesimpulan logis yang amat sederhana. Karena itu, pengetahuan mereka tersusun dari pengamatan-pengamatan kasat-mata; metafisika mereka terbangun dari hal-hal inderawiah; logika mereka berasal dari data-data inderawiah; etika mereka berdasarkan pengamatan-pengamatan inderawiah; sains mereka berasal dari pengamatan-pengamatan inderawiah dari alam, hewan, dan tetumbuhan, sebagaimana anak-anak Adam, Abil dan Kabil, yang menirukan insting burung untuk belajar mengubur mayat manusia.
Kenape mereka yakin bahwa alam semesta adalah guru yang bisa diandalin? Orang Minang percaya, bahwa alam semesta ini punya aturan, punya 'hukum', punya tatanan yang teratur (Nature's order), yang kalo dipatuhin, maka manusia akan selamat. Kata mereka:
Bana bardiri dengan sandirinyo.
Tatanan alam dan kepatutan dipimpin oleh Kebenaran,
sementara Kebenaran berdiri dengan sendirinya.
Bukan cuma suku Minang yang berguru dengan alam semesta. Suku Minahasa juga gitu. Mereka, misalnya, harus mendengarkan dengan sungguh-sungguh teriakan atau arah terbang burung bakeke dan burung kembaluan, karena teriakan atau arah terbang kedua burung itu merupakan 'tanda-tanda' dari alam, agar mereka selamat pada saat mereka hendak memilih waktu untuk membuka perkebunan baru atau pemukiman baru. Selain itu, tikus dan ular juga dipahami sebagai 'tanda-tanda alam'. Bila hewan itu berlari memotong jalan yang akan dilewati, orang Minahasa terpaksa kembali ke tempat semula, karena tikus dan ular itu merupakan tanda-tanda dari alam akan adanya bahaya. Siulan burung manguni juga dipercaya orang Minahasa sebagai kabar alam mengenai keberuntungan. Jika burung manguni bersiul 107 kali berturut-turut, maka itu alamat alam akan adanya anugerah yang besar bagi seluruh penduduk negeri. Jika seorang Minahasa sakit keras, maka cara dan bentuk pengobatannya akan dikabarkan oleh alam lewat babi yang disembelih dan dibaca hatinya. Dalam hati babi itu akan terbaca cara dan bentuk pengobatannya (N. Graafland, De Minahasa, hh. 90-94).
Pengetahuan bukan cuma didapet lewat pengamatan panca-indera terhadap alam semesta (alam takambang jadi guru), tapi juga lewat pareso (akal) dan raso (perasaan moral). Kata orang Minang:
Raso dibao naik, pareso dibao turun.
Segala yang dirasa ditimbang dengan yang di atasnya (akal),
Segala yang diakalkan ditimbang dengan yang di bawahnya (rasa).
(Mursal Esten, Minangkabau: Tradisi dan Perubahan, hal. 22)
Selain dengan raso dan pareso, manusia juga dapat mencapai pengetahuan lewat kondisi trance (kerasukan ruh-ruh leluhur). Banyak suku seperti suku-suku Aceh, suku Jawa, suku Bali, suku Batak, suku Minahasa dan lain-lain yang mencapai pengetahuan lewat cara ini. Mereka sengaja gunain tabuhan gendang dengan irama monoton, tari-tarian ekstatis, pengekangan nafas, mengulang kata-kata suci terus-menerus, nyalain asap dupa, jathilan, samadhi, dan lain-lain untuk memperoleh pengetahuan, yang mereka sebut dengan bekal batin, cahya, ening, ilham, pepadhang, pulung, sipat tinarbuka, wahyu, wangsit dan wisik. Pengetahuan itu berguna untuk ngetahui kapan ‘hari baik’ dan ‘hari buruk’ manusia, kapan ‘nasib baik’ dan ‘nasib buruk’ yang akan diperoleh manusia, kapan ‘hari keberuntungan’ dan ‘hari sial’ dalam usaha manusia, kapan waktu terbaik untuk belanja, bepergian, membuat rumah, sumur, atau membuat pagar, atau waktu yang terbaik untuk kawin (JWM. Bakker, Agama Asli Indonesia, h. 86, 95-107).
Orang Jawa juga punya cara memperoleh pengetahuan yang disebut 'rasa'. Rasa ialah cara memperoleh pengetahuan bukan lewat otak atau panca-indera, tapi lewat intuisi atau indera keenam (the sixth sense). Pengetahuan yang didapat dengan rasa ialah pengetahuan tentang hakikat Aku, hakikat ketuhanan yang ada di dalam diri manusia. Orang Jawa percaya bahwa Tuhan yang nun jauh di sana turun ke dalam diri manusia supaye manusia ngerasain wujudNya. Biar bisa ngerasain keberadaan Tuhan, manusia Jawa ngegunain rasa. Dalam Serat Wirid Hidayat Jati, filosof Jawa bernama Ranggawarsita ngejelasin bahwa rasa letaknye jauh di atas panca-indera. Rasa letaknya jauh di atas otak di kepala, hati di dada, atau penis di bagian kemaluan:
Sesungguhnya Aku [Tuhan] mempersiapkan sebuah mahligai dalam Baitul Makmur (kepala), yaitu rumah tempat keramaianKu, terdiri dalam kepala manusia. Dalam kepala ada dimagh, yaitu otak; di dalam otak ada manik, di dalam manik ada budi, di dalam budi ada sukma dan rasa, di dalam rasa ada Aku. Tak ada Tuhan kecuali Aku, Zat yang meliputi keadaan yang sesungguhnya…
Sesungguhnya Aku [Tuhan] mempersiapkan sebuah mahligai dalam Baitul Muharram (dada), yaitu rumah tempat laranganKu, terdirikan dalam dada manusia. Dalam dada ada hati, di antara hati ada jantung, di dalam jantung ada budi. Di dalam budi ada jinem yakni pikiran. Dalam angan-angan (pikiran) ada sukma, dalam sukma ada rasa, dalam rasa ada Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku, Zat yang meliputi keadaan yang sesungguhnya…
Sesungguhnya Aku [Tuhan] mempersiapkan sebuah mahligai dalam Baitul Muqaddas (penis), yaitu rumah tempat persucianKu, terdirikan dalam kantong kemaluan manusia. Yang ada dalam kemaluan itu pringsilan (buah pelir); di dalam pringsilan ada mani, dalam mani ada madi, dalam madi ada wadi (tempat), dalam wadi ada manikam, dalam manikam ada rasa. Dalam rasa ada Aku. Tak ada Tuhan selain Aku, Zat yang meliputi keadaan yang sesungguhnya. Maka mula-mula sebagai nukat (titik) gaib, kemudian turun menjadi johar awwal. Di situlah adanya Alam Ahadiyat, Alam Arwah, Alam Wahidiyat, Alam Misal, Alam Ajsam, dan Alam Insan kamil, yakni manusia yang sempurna, yakni sifat Aku...
Selain itu, orang Indonesia juga mempunyai cara memperoleh pengetahuan yang lain, yaitu budi. Kata ‘budi’ dimaknai oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai ‘alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk’, sedangkan kata ‘budaya’ dimaknai dengan ‘pikiran atau akal budi’ dan kata ‘akal budi’ sendiri merupakan sinonim untuk kata ‘budi’. Alat batin (daya yang inheren) dalam setiap manusia untuk berpikir dan memutuskan keputusan logis dan keputusan etis dinamai orang Indonesia dengan sebutan ‘budi’. Pengetahuan yang didapet dari aktifitas menggunakan ‘budi’ ini dinamai dengan kata ‘kebudayaan’.
Selain yang udah dijelasin di atas, semua suku asli Indonesia menganggap bahwa semua pengetahuan yang berasal dari leluhur yang udah dilembagakan dan dipraktekkan sejak lama dan turun-temurun (yakni yang sekarang populer disebut adat) adalah pengetahuan yang valid dan absolut (gak berubah-ubah), karena itu mereka anti-inovasi dan anti-pembaharuan. Padahal, kalo mereka tahu bahwa adat juga berasal dari pengamatan panca-indra, dari raso dan pareso, dari kondisi trance, dari rasa dan dari budi, pasti mereka juga akan memperbaharuinya jika situasi dan kondisi alam sudah berubah.
Anyway, itulah epistemologi suku-suku asli kite. Mereka jago juga kan berepistemologu eh salah epistemologi hehehe.
Rabu, 2007 Oktober 10
Sekilas Filsafat Etnis (Bag. 2)
Di bahu sebelah kiri Wook Ngesok terdapat suatu tempat yang disebut ‘segenggam bumi’ (Belikutn Tana) dan ‘segundukan langit’ (Bengkolokng Langit), sedangkan di bahu sebelah kanannya terdapat tempat yang disebut ‘tanah kekuasaan’ (Tana kuasa) dan ‘segundukan bumi’ (Bengkolokng Tana). Di tempat yang disebut ‘segenggam bumi dan segundukan langit’, tumbuhlah delapan batang pohon Potukng Reyus. Di dekat pepohonan itu, hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari delapan generasi; semuanya hidup dalam waktu yang bersamaan. Sedangkan di tempat yang disebut ‘tanah kekuasaan dan segundukan bumi’, tumbuhlah delapan batang pohon Nancang Suyatn. Di dekat pepohonan itu, hidup pulalah sebuah keluarga yang terdiri dari delapan generasi; semuanya juga hidup dalam waktu yang bersamaan. Generasi kedelapan dari keluarga yang hidup di bahu kiri Wook Ngesok adalah seorang lelaki bernama Imang Mengkelayakng, sementara yang hidup di bahu kanannya ialah seorang perempuan yang bernama Lolang Kintang. Mereka berdua menikah dan membangun sebuah rumah besar yang luasnya sebatas Batuq Rangkang Bulau dan Batuq Ding Dingkikng…
Keren kan? Bukan hanya suku Dayak aje yang punya kosmologi; suku Batak juga punya. Nih coba simak:
Pada mulanya tidak ada apa-apa. Di atas sana, di suatu ruang yang amat jauh, yang tidak nampak oleh penglihatan dan tidak disangka-sangka manusia, duduklah Debata, ‘Mula jadi na bolon’, sang dewa pencipta. Pada mulanya tidak ada apa-apa di bawah tempat Debata, ‘Mula jadi na bolon’, duduk itu. Yang ada hanya kehampaan yang sangat, yang diliputi oleh lautan luas dan alam arwah (netherworld), hanya ada kehitaman yang pekat, kesunyian yang amat senyap, tidak ada suara manusia, tidak ada suara binatang, apalagi suara desir angin yang berhembus. Ombak di lautan bergulung-gulung tanpa suara; tidak ada pantai yang dapat mencegah gulungannya. Hanya ada satu makhluk hidup yang diperkenankan untuk menemani kesunyian sang keabadian yang Maha Kuasa—manuk-manuk, yaitu ayam berbulu biru. Manuk-manuk ini, sang isteri dewa, menetaskan tiga telur dan dari ketiganya lahirlah tiga dewa: Batara Guru, Soripada, dan Mangala Bulan. Batara Guru pun menciptakan dunia dan manusia…
(Mochtar Lubis, Indonesia: Land under the Rainbow, Oxford, New York, Singapore: Oxford University Press, 1990, h. xiii)
Suku Dusun di Borneo juga punya kosmologi. Nih coba baca:
Pada mulanya terdapat satu batu karang di tengah laut. Pada waktu itu, belum ada tanah (bumi), yang ada hanyalah air. Batu karang itu membuka mulutnya, lalu keluarlah darinya seorang lelaki dan seorang perempuan. Mereka berdua pun menoleh ke kanan ke kiri, yang ada hanyalah air. Si perempuan lalu berkata kepada si lelaki, ‘Bagaimana bisa kita berjalan, sedangkan tanah (bumi) tidak ada di sini?’ Mereka menuruni batu karang dan mencoba menapaki permukaan air laut. Merekapun berjalan di atas air laut itu. Setelah itu, mereka kembali ke batu karang, lalu mencoba berpikir; mereka tinggal lama di karang itu; kemudian mereka berjalan lagi di atas air hingga mereka sampai ke tempat Bisagit, si ruh penyakit cacar. Bisagit telah membuat tanah (bumi), walaupun tempatnya sangat jauh dari tempat mereka.
…. Keduanya berkata kepada Bisagit dan meminta darinya segenggam tanah, ia pun memberi mereka tanah. Setibanya mereka di batu karang, mereka mencampur tanah itu dengan batu karang, sehingga karang itu menjadi tanah. Kedharingan lalu menciptakan suku Dusun, sementara istrinya Munsumundok menciptakan langit. Setelah itu, mereka berdua menciptakan matahari, lantaran tidak baik bagi manusia untuk berjalan tanpa cahaya. Lalu Munsumundok berkata, ‘Di malam hari, kita tidak memiliki cahaya. Mari kita ciptakan bulan,’ lalu merekapun menciptakan bulan dan tujuh bintang, gugusan bintang blatek dan kukurian…
(Ivor H.N. Evans, Among Primitive People in Borneo, Singapore: OUP, 1990, h. 175)
Suku Tolaki di Sulawesi juga punya kosmologi. Nih baca lagi neh!
Sebelum terjadinya alam…, maka yang ada hanya ruang kosong, tak ada apa-apa di dalamnya. Pada suatu ketika o ombu menciptakan o ngga (terang, cahaya). O ombu memandang o ngga, yang mengakibatkan o ngga menjadi panas, maka terjadilah o api (api, panas). O ombu memandang kepada o api, yang mengakibatkan o api menjadi oleo (matahari). O ombu memandang kepada oleo, yang mengakibatkan oleo bergerak. Gerakan oleo inilah kemudian yang menimbulkan o pua (angin). Selanjutnya o ombu menutup mata maka terjadilah gelap segala yang terang. Gelap inilah yang menjadikan o wingi (malam). Terjadilah siang dan malam. Kemudian o ombu mengupas dakinya dan menggulungnya menjadi gumpalan dan dilemparkannya ke bawah dan itulah yang kemudian menjadi wuta’aha (tanah yang luas, bumi). O ombu mencabut beberapa lembar rambut dan bulunya dan dilemparkannya ke wuta’aha dan itulah yang kemudian menjadikan tumbuh-tumbuhan di wuta’aha; sesudah itu o ombu mengeluarkan beberapa kutunya dan dilemparkannya ke atas wuta’aha dan itulah yang kemudian menjadikan hewan-hewan di wuta’aha. Agar tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan dapat hidup di atas wuta’aha, o ombu membuang kencingnya dan itulah yang kemudian menjadikan hujan. Segala peristiwa kilat dan guntur serta apa yang dinamakan o lelu (gempa bumi) adalah wujud dari o ombu yang menggerakkan dirinya.
(Abdurrauf Tarimana, Kebudayaan Tolaki, Jakarta: Balai Pustaka, 1993, cet-2, h. 217-8)
Tuh kan, gimana menurut lo lo pade? Leluhur kita jago juga kan ngejelasin asal mula semesta ini. Ya gak. Ya gak??
Sabtu, 2007 September 29
Sekilas tentang Filsafat Etnis Asli Indonesia (Bag. 1)
Karena dua kondisi tadi (ada yang cuma punya bahasa lisan dan ada yang punya keduanya bahasa lisan dan tulisan), maka orang yang mau neliti filsafat-filsafat suku itu harus jago-jago periksa apakah suku yang ia teliti cuma punya bahasa lisan atau udah punya bahasa lisan n tulisan sekaligus. Kalo suku itu udah punya sistem tulisan, tinggal cari aja buku-buku atau karangan-karangan mereka yang udah dibukukan; tapi kalo belom punya sistem tulisan, lo harus ngedenger langsung atau ngerekam lagu-lagu mereka, terus ditranskrip (alih-tulisan) atau lo harus liat tarian-tarian mereka langsung. Tapi, kalo udah ada buku yang ngebahas tentang tradisi lisan/nyanyian atau tari-tarian, tinggal cari aja buku itu: gak perlu susah-susah pergi ke suku itu langsung. Untungnya, buku-buku yang dikarang para ahli antropologi budaya udah banyak ngebantuin untuk menelusuri filsafat etnis kita (thank a lot, you guys anthropologists!).
Trus, leluhur kite kan bukan orang yang individualis kayak kita sekarang. Mereka gak ada nafsu untuk terkenal, gak ada nafsu untuk nonjolin diri, dan gak ada kepentingan buat ngelindungin hak cipta intelektualnya. Jadi, dalam karangan-karangan mereka, gak ditemuin nama pengarangnya (anonimous). Semua karangan jadi milik umum dan diwarisi untuk umum. Filsafat diajarkan untuk umum dan tidak dipungut biaya. Pengajaran filsafat ke generasi muda adalah kewajiban sosial, bukannya komoditas komersil. Makanya, filsafat-filsafat yang ada dalam suatu suku bukan diciptakan seseorang (penciptanye aje), tapi untuk seluruh anggota suku itu. Walaupun yang nyiptain umpamanye satu orang (si X), tapi filsafat itu diwarisin, diketahui, dikaji, disebarkan, dan dipraktekkan oleh semua anggota suku. Makanya, sebutannya "filsafat suku" atau "filsafat etnis", yang berarti filsafat yang dianut oleh seluruh anggota suatu suku, bukannya filsafat 'si anu' atau filsafat 'si ani'. Itu juga ngebuktiin, bahwa leluhur kite orangnye masih komunal, bukannye individual. Keberadaan mereka masih bergantung pada identitas sosial mereka, bukannye identitas pribadi mereka.
Di bawah ini gue mau nunjukkin lo lo pade, hasil penelitian gue selama ini tentang filsafat etnis asli kite, yang gue dapat dengan cara (1). nemuin buku-buku karangan mereka (buat suku yang udeh punya sistem tulisan); (2). nemuin buku-buku yang mentranskrip nyanyian-nyanyian mereka atau mendeskripsikan tari-tarian mereka (buat suku yang belom punya sistem tulisan); (3). kalo no.1 dan no.2 gak mungkin ketemu, gue coba nemuin buku-buku yang udah ngebahas no.1 dan no.2 itu (sumber-sumber sekunder).
1. ETIKA
Etika adalah salah satu cabang ilmu filsafat yang ngebahas masalah seputar moralitas (norma-norma), prinsip-prinsip moral, dan teori-teori moral (misalnya 'teori hati nurani', 'teori rasa moral', 'teori keputusan moral', 'teori tentang kebaikan mutlak' dan 'teori tentang kebaikan relatif', 'teori tentang kejahatan', 'teori kriteria moral', 'teori tentang asal mula manusia harus bermoral', dan lain-lain). Leluhur kite sejak era neolitik udah menciptakan norma-norma, prinsip-prinsip moral, dan teori-teori moral. Sayangnya, seperti yang dah gue bilang tadi, ada di antara suku-suku kite yang gak nulis filsafat etika mereka dalam bentuk buku-buku. Jadi, bagi yang mau ngebahas filsafat etika suku asli kita, dia harus mengalih-tulisan nyanyian-nyanyian mereka atau kekayaan tradisi tutur mereka.
Filsafat etika suku asli kita dapat ditemuin di dalam pepatah-petitih, peribahasa, pantun, atau kata-kata bijak yang selama ini sering kite denger dari ortu kite, kakek-nenek kite, atau buyut kite yang masih tinggal di kampung halaman kite atau yang masih melestarikannya walaupun mereka dah tinggal di kota-kota besar. Contoh dari pantun-pantun yang berisi ajaran bijak dan mata air kearifan ialah seperti:
Berakit-rakit kehulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
Kehulu memotong pagar
Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar
Jangan jadi sesal kemudian
Kerat kerat kayu diladang
Hendak dibuat hulu cangkul
Berapa berat mata memandang
Barat lagi bahu memikul
Harapkan untung menggamit
Kain dibadan didedahkan
Harapkan guruh dilangit
Air tempayan dicurahkan
Pohon pepaya didalam semak
Pohon manggis sebasar lengan
Kawan tertawa memang banyak
Kawan menangis diharap jangan.
Semua pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, sedangkan dua baris terakhir merupakan isi. Menurut Jakob Sumardjo, seorang filosof Indonesia, sampiran selalu menyediakan analogi/kiasan untuk isi dan merupakan simbol dari 'jagad besar' (macrocosm) bagi 'jagad kecil' (microcosm). 'Jagad besar' adalah alam semesta ini, sedangkan 'jagad kecil' adalah manusia seperti kite. Baik sampiran maupun isi harus mengandung 'keselarasan logis', sebab dua-duanya adalah simbol harmoni antara alam semesta dan manusia (Sumardjo 2002:296-324).
