Selasa, 25 September 2007

Apa Sih Filsafat Indonesia?


Berawal dari pertanyaan yang tiba-tiba menggelitik gue dua tahun yang lalu (2005) "kenapa sih gak ada Filsafat Indonesia?". Padahal orang Indonesia gak kalah jeniusnya, gak kalah gokilnya, gak kalah kreatifnya dan gak kalah pinternya dengan orang di wilayah dunia yang lain. Maka, dengan bekal nekat dan dengan dukungan temen-temen nongkrong dan temen-temen diskusi, gue akhirnya mutusin buat meneliti dan membuat riset tentang Filsafat Indonesia. Alhasil, riset gue itu menghasilkan kajian baru yang gue beri nama dengan 'Kajian Filsafat Indonesia".

Ternyata gue gak sendirian. Sebelum gue, sudah ada beberapa pakar filsafat yang sudah mikirin hal yang sama dengan gue. Mereka misalnya Mohammad Nasroen (1907-1968) , beliau adalah guru besar filsafat di Universitas Indonesia. Dia sempet nulis buku yang ngebahas Filsafat Indonesia, judulnya Falsafah Indonesia (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1967), yang di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dikategorikan sebagai ‘buku langka’ dengan Nomor Panggil (Shelf Number) 181.16 NAS f.

Dalam karyanya itu, Nasroen menegaskan keberbedaan Filsafat Indonesia dengan Filsafat Barat (Yunani-Kuno) dan Filsafat Timur, lalu mencapai satu kesimpulan bahwa Filsafat Indonesia adalah suatu Filsafat khas yang ‘tidak Barat’ dan ‘tidak Timur’, yang amat jelas termanifestasi dalam ajaran filosofis mupakat, pantun-pantun, Pancasila, hukum adat, ketuhanan, gotong-royong, dan kekeluargaan (hal.14, 24, 25, 33, dan 38).

Terus, Soenoto (lahir tahun 1929), seorang mantan Dekan Fakultas Filsafat UGM (1967-1979), yang juga nulis beberapa buku tentang Filsafat Indonesia, seperti Selayang Pandang tentang Filsafat Indonesia (Yogyakarta: Fakultas Filsafat UGM, 1981), Pemikiran tentang Kefilsafatan Indonesia (Yogyakarta: Yayasan Lembaga Studi Filsafat Pancasila & Andi Offset, 1983), dan Menuju Filsafat Indonesia: Negara-Negara di Jawa sebelum Proklamasi Kemerdekaan (Yogyakarta: Hanindita Offset, 1987).

Dalam ketiga bukunya itu, Soenoto nyempurnain karya rintisan Nasroen dengan menelusuri tradisi kefilsafatan Jawa dan memberikan penjabaran yang detil banget tentang tradisi itu.

Tokoh selanjutnya ialah R. Parmono (lahir tahun 1952), yang pernah jadi Sekretaris Jurusan (Sekjur) pada Jurusan Filsafat Indonesia di UGM yang dirintisnya bersama-sama dengan Soenoto. Dia juga nulis beberapa buku yang ngebahas Filsafat Indonesia, seperti Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia (Yogyakarta: Andi Offset, 1985), Penelitian Pustaka: Beberapa Cabang Filsafat di dalam Serat Wedhatama (1982/1983), dan Penelitian Pustaka: Gambaran Manusia Seutuhnya di dalam Serat Wedhatama (1983/1984).

Dalam Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia, R. Parmono nyempurnain kekurangan kajian Soenoto yang mengkaji sebatas tradisi kefilsafatan Jawa dengan ngelebarin lingkup kajian pada tradisi filsafat Batak, Minang, dan Bugis.

Terakhir, ialah Jakob Sumardjo (lahir di Klaten tahun 1939), seorang budayawan Bandung dari ITB. Buku-bukunya yang khusus ngebahas Filsafat Indonesia ialah: Arkeologi Budaya Indonesia (Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2002, ISBN: 979-9440-29-7), dan Mencari Sukma Indonesia: Pendataan Kesadaran Keindonesiaan di tengah Letupan Disintegrasi Sosial Kebangsaan (Yogyakarta: AK Group, 2003).

Dalam karyanya Arkeologi Budaya Indonesia, Jakob ngebahas ‘Ringkasan Sejarah Kerohanian Indonesia’, yang secara kronologis maparin sejarah Filsafat Indonesia dari ‘era primordial’, ‘era kuno’, hingga ‘era madya’. Terus, dalam karyanya yang lain, Mencari Sukma Indonesia, Jakob pun menyinggung ‘Filsafat Indonesia Modern’, yang secara radikal amat berbeda coraknya dari ‘Filsafat Indonesia Lama’.

Keempat tokoh itu dah ngedahuluan gue, jadi menurut gue pantaslah kalo mereka gue sebut dengan 'para pelopor Filsafat Indonesia'. Gue cuma ngepopulerin apa yang udah ditemuin oleh mereka jauh-jauh hari. Peran gue cuma recalling (nginget-ngingetin lo lo pade), bahwa di Indonesia pun ada tradisi berpikir spekulatif yang udah berumur panjang (kata Mochtar Lubis dalam bukunya Indonesia: Land under the Rainbow, dah sejak era neolitik sekitar 3500 SM ampe sekarang!). Tradisi berpikir itu dibahas dalam kajian yang disebut 'Filsafat Indonesia'. Jadi, gitu deh sejarahnya knapa ada kajian yang disebut 'Filsafat Indonesia'.

Nah, kalo ada yang nanya "apa sih definisi Filsafat Indonesia?", gue akan ngutip apa yang dah gue tulis di Wikipedia Indonesia n Wikipedia Inggris. Filsafat Indonesia ialah "sebutan umum untuk tradisi kefilsafatan yang dilakukan oleh penduduk yang mendiami wilayah yang belakangan disebut Indonesia. Filsafat Indonesia diungkap dalam pelbagai bahasa yang hidup dan masih dituturkan di Indonesia (sekitar 587 bahasa) dan 'bahasa persatuan' Bahasa Indonesia, meliputi aneka mazhab pemikiran yang menerima pengaruh Timur dan Barat, disamping tema-tema filosofisnya yang asli."

Siapa aje filosof Imdonesia? Mochtar Lubis ngejawab bahwa filosof Indonesia yang paling termula ialah para leluhur, yakni para bijak dan para cerdik pandai yang hidup dalam suku-suku etnis asli Indonesia (orang Barat nyebut mereka 'primitif'), seperti suku Sakuddei di Kepulauan Mentawai (Sumatera Barat), suku Atoni di Timor Timur, suku Marind-Anim di Papua (Irian Barat), juga di suku Minangkabau, Jawa, Nias, Batak, dan lain-lain (Lubis 1990:1-40). Trus, pas migrant-migran Tiongkok pada datang ke Indonesia antara tahun 1122-222 SM, mereka membawa-serta dan memperkenalkan Taoisme dan Konfusianisme kepada mereka (Larope 1986:4). Pada sekitar tahun 1000 M adalah masa berkembangnya alam pikiran Indonesia (Filsafat Indonesia), yang ditandai dengan kemunculan tradisi literer-filosofis Hindu-Buddha pengaruh India. Ntar, sejak awal tahun 1400-an hingga seterusnya, datanglah pemikiran Islam ke Indonesia. Terakhir, di awal abad 19 M datanglah Filsafat Barat dari orang Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda yang datang ke Indonesia. Jadi, hampir semua filsafat di dunia pernah tersebar di Indonesia.

Gue rasa cukup dulu untuk perkenalan ini. Gue janji gue akan tulis buat artikel mendatang buat lo lo pade, pembaca blog gue yang kebetulan ngeliat artikel ini, yang ngebahas tentang Filsafatnya para leluhur kita, yaitu Filsafat Etnis Asli di Indonesia. See you again next time!

10 komentar:

areta mengatakan...

wah, blog baru yah?
oke neh...
Indonesia memang orangnya pinter2 meskipun kurang tersalur kepandaiannya itu.
jadi harus ada yg pinter bikin wadah juga...
hehehe...
kadang2, di sini, kalo orang berfilsafat, bias dikira gila lho!
apalagi kalo orangnya lum punya nama di masy. cm orang kecil yang dianggep sampah masy. dikira bodoh dan tak berguna. langsung "GILA" nemplok di jidatnya.

Ferry Hidayat mengatakan...

Memang betul apa yang lo bilang areta. Gue pernah ngajar bahasa Inggris di SMUN 68, salah satu sekolah favorit di Jakarta Pusat, sambil bikin survei kecil-kecilan tentang siapa yang suka filsafat. Dari 100 murid yang pernah gue ajar, cuma 5 orang yang berbakat untuk berfilsafat. Ini menunjukkan bahwa masih banyak yang belom tahu sebenarnya filsafat itu apa. apalagi 'Filsafat indonesia'. Gue yakin banyak yang gak tahu siapa yang bilang pertama kali kata-kata 'Bhinneka Tunggal Ika'. ya betul, Mphu Tantular. Trus kalo ditanya lagi, "apa versi lengkap yang di dalamnya ada kata Bhinneka Tunggal Ika itu?". Gue yakin banyak yang belom tahu. Jadi, pandangan masyarakat yang salah tentang orang-orang yang serius mau mikir hal-hal besar, gue pikir, lebih disebabkan karena ketidaktahuan mereka saja mengenai filsafat. kalo mereka dah tahu, baru mereka sadar bahwa sebenarnya tanpa sadar mereka dah berfilsafat sepanjang hidup mereka. Berfilsafat kan kodrat manusia. Setiap manusia yang menggunakan akalnya dan nuraninya untuk menyelesaikan problem hidup adalah seorang filosof.

Gue salut lo yang masih muda (16 tahun) dah punya banyak tulisan dan gagasan yang oke punya.You are the lost generation of indonesia whom I am looking for :-)

areta mengatakan...

wah, makasi...
daku jadi tersipu2...
yup, sebenernya, berfilsapat tuh mikir pake akal sehat.
sesuatu yang orang2 uda pada males banget karena udah terpaku doktrin yang emang sengaja ditancapkan generasi2 atas.
makanya, sekarang orang yang dengan kentara berfilsafat tentang sesuatu yang asing banget bagi orang2 di lingkungannya, pasti dianggep gila.
eh, brapa bulan lagi, gw 17 kok!
heheh..
eh, jarang2 banget lhow, ada orang yang mau ngeblog ttg filsafat...
yang mau ngomongin ajah jarang!
kemaren pun begitu..
neh, ceritanya, ada edufair di skul gw.
dari sekian banyak univ yang presentasi di skul gw, gak satu pun punya jurusan filsafat! trus, orang yang jaga stand univ ampe norak gara2 gw ngisi kolom "minat" dengan "filsafat". lucu yah..
trus, jurusan lain yang gw gak dapet adalah : sastra indonesia.
yang ada malah sastra jepang, inggris, ama cina.
kali ajah, sastra indonesia diitungnya di komunikasi--jurnalistik.
haiyah! jadi curhat...

Ferry Hidayat mengatakan...

Yang lebih lucu dan konyol adalah universitas luar negeri kayak Australia, AS, Kanada, Singapura malah buka jurusan "Indonesian Studies" (Studi Keindonesiaan) yang meliputi sastra, bahasa, politik, budaya, ekonomi, dan lain-lain. Di Amerika sendiri juga gak ada jurusan "American Studies" (Studi Keamerikaan) karena memang apa yang mereka pelajari adalah semua tentang Amerika. Sebaliknya di Indonesia, kalo kita masuk jurusan Sejarah, kita malah belajar teori sejarah Amerika dan Eropa, bukannya teori sejarah kita sendiri. Lucu khan?

areta mengatakan...

iya tuh...
jadinya... orang luar lebih tau tentang negri kita dan kita lebih tau tentang negri orang...
hahaha!

ras_zes mengatakan...

asy!k
Asy!k
Asy!k
da blog filsafat!

Ini namanya blog seru!!!
abis tiap aq diajak temen ke warnet, musti diajak ngeblog
yang enggak-enggak . . .
tau lau maksud ane . . .

orang indonesia tuh harusna
diskusi kayak beginian biar tambah pinter, bukannya tambah blo'on

Ow, sampe lupa kenalin diri . . .
ane anak SMA yang demen ama filsafat!

Ferry Hidayat mengatakan...

makin banyak generasi muda yang suka filsafat, apapun itu, apalagi filsafat indonesia, makin besar peradaban indonesia di masa depan. I am totally sure!

RENAISSANCE mengatakan...

sebagai mahasiswa sejarah kuliah saya tak lepas dari filsafat

Canggih Farunik mengatakan...

Wah, ternyata ada juga yang concern sama filsafat nih..Salam Kenal dari Alumni Fakultas Filsafat UGM. Wah, Pak Pramono itu mang dah lama banget jadi legenda kampus Filsafat UGM, selain pak Notonagoro yang pertama kali buat tafsir ilmiah Pancasila secara populer, dan pak Koento Wibisono yang menjadi saksi sejarah ketika Fakultas Filsafat UGM berdiri.

Soal dibilang gila, mungkin karena orang-orang yang diajak ngomong soal filsafat itu menganggap bahwa filsafat adalah kegiatan yang kurang kerjaan. Bagi mereka, hakikat segala sesuatu itu sudah jelas, jadi ngapain lagi mikirin hakikat gelas hingga posisi ontologi dari gelas kalo tujuan praktis dari gelas adalah untuk minum dan keberadaan gelas adalah nyata karena bisa dipegang,hahahaha.

Bagi saya, filsafat selalu membuat diri saya waspada, bahwa segala hal di dunia ini belumlah fix. masih banyak misteri yang tersimpan dari kehidupan, dan saya akan dengan senang hati berusaha untuk membongkarnya =D

jack enjo mengatakan...

anda belum paham filsafat
filsafat tidak terkotak2 seperti yg kalian semua pikirkan dan pahami,inilah mengapa org indonesia sering salah memahami filsafat yg byk sok tahu filsafat apalgi berfilsafat rancu luarbiasa
pikirkan baik2 komentar saya

 
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Indonesia To Blog -Top Site Literature blogs Top Blogs Philosophy Blogs - BlogCatalog Blog Directory KampungBlog.com  - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Indonesia To Blog -Top Site Literature blogs Top  Blogs