Minggu, 21 Oktober 2007

Sekilas Filsafat Etnis Asli Kita (Terakhir)

5. Logika

Logika adalah salah satu cabang ilmu filsafat yang ngebahas soal-soal seperti "apa itu pemikiran atau penalaran?", "bagaimana menalar yang benar?", "apa kriteria menalar yang benar?", "bagaimana menilai penalaran yang benar?", "apa saja batas-batas berpikir atau bernalar?", "apa saja kesalahan berpikir?", "apa hukum-hukum berpikir yang universal?", "bagaimana menyusun argumentasi yang logis?", dan lain-lain. Intinye, logika ialah filsafat berpikir atau filsafat bernalar.


Leluhur kite dah memiliki pula filsafat logika, tapi, seperti yang dah gue bilang sebelumnye, ada di antara mereka yang gak punya sistem tulisan atau aksara, sehingga logika mereka harus digali dari tradisi lisan mereka, seperti dari pantun-pantun, dari mitologi lisan, dari legenda-legenda, dari nyanyian mereka, dan lain-lain.


Yang perlu dipastikan sebelum ngebahas logika mereka adalah apakah mereka memiliki kosakata yang merujuk pada aktifitas berpikir atau bernalar. Rupanya, dari hasil penelitian gue, banyak dari suku-suku asli kite yang dah punya kosakata 'berpikir' dalam khazanah bahasa mereka. Misalnya, suku Banua Batu Tulis menyebutnya dengan 'Bapikir'; suku Gaay menyebutnya 'Petmiwik'; suku Dayak Kenya Badeng menyebutnya 'Ngerima'; suku Punan menyebutnya 'Petmuk'; suku Segaai menyebutnya 'Ngensang'; suku Bugis Kariangau menyebutnya 'Pikkiri'; suku Kanayan Saham menyebutnya 'Ngasek'; suku Dayak Ribun menyebutnya 'Pikiyeh'; suku Tanap menyebutnya 'Tenteh' (lihat daftar lengkapnya di tulisan gue di www.indonesianphilosophy.co.nr, yang judulnye 'Argumen Morfologis', oceh?). Nah, kalo di dalam bahasa aja dah ada kata untuk menyebut aktifitas berpikir atau bernalar, maka otomatis mereka pun memiliki logika.


Lalu bagaimana dengan 'isi' penalaran mereka? Inilah yang asyik untuk diterangin di sini. Kalian dah tau kan 'deduksi' dan 'induksi' atau 'metode deduktif' dan 'metode induktif'? Masih inget dengan pembahasan kita tentang 'epistemologi' di blog ini kan? Kalo lupa, baca lagi aja dulu, baru baca lagi di bagian terakhir ini, oceh?


Bagi yang masih inget, kita akan lanjutkan, bahwa dengan metode empiris (alam takambang jadi guru) itu, leluhur kite membuat induksi-induksi. Induksi ialah kesimpulan yang diperoleh dengan ngegunain metode empiris. Caranya gini: apapun yang terjadi di alam ini dicerap oleh leluhur kite pake panca-indera mereka. Misalnye, leluhur kite melihat awan hitam (mendung) di langit, lalu mendengar halilintar dan kilat, lalu melihat awan kian hitam, lalu merasakan turunnya air dari langit yang menetes di kepala mereka. Makin lama air dari langit itu makin deras. Maka terjadilah 'turunnya air dari langit yang kian deras'; merekapun segera memberikan nama untuk fenomena itu, sehingga terciptalah kata 'hujan'.


Dari fenomena 'hujan' yang mereka saksiin pake mata, denger pake kuping, dan yang mereka rasa pake kulit mereka, mereka pun membuat suatu induksi: 'hujan' akan turun kalo sebelumnya ada awan mendung, kilat dan halilintar. Induksi yang masih 'mentah' itu akan mereka uji lagi di kesempatan yang lain, di waktu lain, dan di saat lain. Jika besok hari, lalu besok harinya lagi, terus besok-besok-besok-besok harinya lagi mereka nemuin ada awan mendung dan dengar ada halilintar en kilat, trus turun lagi ujan, maka barulah mereka cukup bukti, bahwa induksi yang mereka hasilkan 'udah matang', udah teruji berkali-kali dengan panca-indera mereka. Jadi, mereka menghasilkan induksi melalui serangkaian ujian-ujian dengan panca-indera mereka. Di saat mereka bikin induksi ini, mereka dah menggunakan apa yang disebut pareso atau rasio (masih inget kan pelajaran epistemologi kite??). Jadi, mereka gunain alam takambang jadi guru (metode empiris) dan pareso (akal, rasio) untuk ngebikin induksi (dan nantinya juga deduksi).


Induksi-induksi ini nantinya akan jadi 'deduksi'. Waduh, apa pula nih 'deduksi'? Setelah leluhur kite membuat induksi tentang ujan tadi ('jika ada awan mendung, trus ada halilintar dan kilat, maka ujan akan turun"), mereka pun membuat induksi tadi jadi deduksi. Deduksi ialah kesimpulan yang kebenarannya dianggap umum; kepastiannya dah gak diragukan lagi; kevalidannya dah mutlak dan gak bisa diubah-ubah, menurut ujian panca-indera mereka. Karena dah jadi deduksi, maka ia dapat dipake, untuk mengambil kesimpulan baru dari fenomena-fenomena alam yang baru ditemukan mereka lewat panca-indera mereka. Misalnya, deduksinya ialah 'jika ada awan mendung, halilintar dan kilat, maka ujan akan turun", trus mereka pergi ke suatu tempat, misalnya namanya 'X'. Di kota 'X', mereka melihat awan mendung, denger halilintar dan kilat, maka segera mereka bernalar. kira-kira di otak mereka, mereka bernalar kayak gini:




1. Jika ada awan mendung, ada halilintar dan kilat, maka ujan akan turun (Deduksi)

2. Di kota 'X', ada awan mendung dan ada halilintar dan kilat (pengalaman baru)

maka =

3. Di kota 'X' akan turun ujan (kesimpulan baru).


Begitulah leluhur kite membuat induksi dan deduksi terus; begitulah leluhur kite bernalar. Dari metode alam takambang jadi guru dan metode pareso, mereka melahirkan banyak induksi-deduksi, misalnya bahwa alam semesta ini teratur atau memiliki mekanisme (bhs. Minang, alua), sebagaimana dijelaskan dalam pantun-pantun Minangkabau berikut ini:


Kamanakan barajo kapado mamak,
Mamak barajo kapado tungganai,
Tungganai barajo kapado panghulu,
Panghulu barajo kapado mufakat,
Mufakat barajo kapado alua jo patuik,
Alua jo patuik barajo kapado bana,
Bana bardiri dengan sandirinyo.

(Kemenakan dipimpin oleh mamak,
mamak dipimpin oleh tungganai,
tungganai dipimpin oleh penghulu,
penghulu dipimpin oleh mufakat,
mufakat dipimpin oleh mekanisme alam dan kepatutan,
tatanan alam dan kepatutan dipimpin oleh Kebenaran,
Kebenaran berdiri sendiri.)



Karena mereka memiliki deduksi bahwa alam memiliki alua ('alur alam', 'hukum alam') ini, maka semua manusia harus mematuhi 'hukum alam' itu. Tidak mematuhinya berarti merusak tatanan alam.



Leluhur Minangkabau memandang Adat sebagai bagian dari 'hukum alam' ini (alua). Karena alam memiliki 'hukum' atau 'mekanisme' yang bersifat mutlak, dan adat mereka ambil dari 'hukum alam' ini (inget kan, alam takambang jadi guru?), maka adat pun bersifat mutlak (gak bisa diubah-ubah). Ini disebut orang Riau dengan adat sebenar adat atau disebut orang Minang dengan adat babuhul mati. Kata orang Minang, adat tak lekang oleh paneh, tak lapuak oleh hujan (adat tidak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan); kata orang Bugis, rusak taro datu tenrusak taro ade' (hukum datuk dapat dirusak, tapi hukum Adat tak bisa dirusak) (Depdikbud 1984:115). Karena deduksi itu, maka mereka pun berkesimpulan bahwa semua orang yang melanggar adat berarti melanggar aturan alam (alua) dan pelanggaran terhadap alua akan merusakkan tatanan alam itu, maka setiap orang yang melanggar harus diberi sanksi agar tatanan alam tidak lagi dirusak dan adat yang mengikuti tatanan alam tidak lagi dilanggar.

5 komentar:

areta mengatakan...

o0m guru! lama tak jumpa...
daku baru balik dari liburan ke aceh dan medan. jadi baru bisa ketemu komputer dengan internet di rumah, lalu online.

meskipun udah basi, tetep mau bilang, selamat tahun baru 2008!

uhmm... masalah logika, empiris, dan sbgnya itu... tadi aku baru baca di buku. ada filsuf yang bener-bener mengandalkan panca indra. nama belakangnya Hume. depannya udah lupa. hehehe...

Ferry Hidayat mengatakan...

Sama areta. Selamat Tahun Baru 2008. Semoga semangat baru dan kesegaran baru untuk menjalani kehidupan diberkahi Tuhan buat kamu, dik! Amen! Oh ya maksud kamu, David Hume? Betul dia filsuf Inggris yang dikenal sebagai kaum empiris, yakni kaum yang hanya mengandalkan panca indera untuk mencapai kebenaran. Dia nanti dikritik oleh Rene Descartes, yang bilang bahwa akallah yang bikin manusia mencapai kebenaran, bukannya panca indera. entar keduanya dikritik ama Immanuel Kant. Keep reading, my sister!

areta mengatakan...

oh ya... hehehe...
pak guru mank paling tau!

daku seneng banget tuh sama opa descartes. daku baca biografinya waktu smp dulu, trus langsung suka.

jadi inget teori lain lagi... entah teori siapa (nginget nama tuh susah). kurang lebih, orang itu bilang, ada tesis, ada antitesis, ada sintesis.
kurang lebih kayak mereka bertiga tadi.
teori hume itu tesis. nanti ditentang ama descartes, teori descartes itu antitesis. nanti dikritik (ato dinetralisir.. hehehe) dua-duanya ama kant, teori kant itu sintesis.

huahuahua...
filsafat tuh ilmu yang bikin kecanduan..

Ferry Hidayat mengatakan...

Yang bilang ada teori tesis, lalu ada antitesis, lalu memunculkan sintesis, adalah Friedrich Hegel si filosof Jerman

Setyo Widodo mengatakan...

Bagaimana mungkin Hume dikritik Descartes? apa nggak kebalik... karena Descartes hidup sebelum Hume...

 
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Indonesia To Blog -Top Site Literature blogs Top Blogs Philosophy Blogs - BlogCatalog Blog Directory KampungBlog.com  - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Indonesia To Blog -Top Site Literature blogs Top  Blogs