Sabtu, 20 Oktober 2007

Sekilas Tentang Filsafat Etnis Kita (Bag. 4)

4. Estetika

Estetika ialah salah satu cabang ilmu filsafat yang ngebahas soal-soal seperti "apa itu keindahan?", "kapan sesuatu itu disebut indah?", "apa saja kriteria sesuatu dapat disebut indah atau buruk?", "bagaimana cara menilai keindahan?", "apa itu seni?", "kapan sesuatu layak disebut seni?", "bagaimana menilai suatu karya seni?", "kriteria apa yang dipake agar sesuatu dapat disebut seni?", "bagaimana cara menilai selera?", "apa tujuan dari seni?", dan lain-lain. Intinye, estetika ialah filsafat keindahan atau filsafat seni.


Leluhur kite juga dah punya estetika. Awalnye sih, menurut gue, mereka gak sengaja menemukan estetika. Setiap mereka liat fenomena alam yang mendebarkan, mereka kepikiran, lalu mereka memikir-mikirkannya, terbayang-bayang dengannya, lalu saking terpesonanya, mereka mengekspresikannya dengan menggambar atau melukiskannya dalam bentuk gambar. Maka, mulailah mereka melukis atau menggambar di gua-gua, seperti yang bisa kite liat di Gua Pattakere di Sulawesi. Mereka melukis tangan-tangan mereka di dinding gua (persis kayak kite sekarang nyablon). Mereka lalu bereksperimen dengan warna-warna yang mereka temuin dari pohon-pohon, daun-daun atau darah hewan. Dari eksperimen warna, mereka menciptakan tato (seperti di suku Dayak, suku Irian), menciptakan kain tenun, menciptakan pakaian, menciptakan alat perang, menciptakan arsitektur rumah, dan lain-lain.


Ada juga suku yang bereksperimen dengan pahatan-pahatan (seperti suku Dani, suku Asmat, suku Batak-Karo, suku Toraja), sehingga mereka menciptakan seni pahat yang indah dan eksotik, seperti seni patung Mbis suku Asmat, seni hias perahu kayu suku Batak-Karo, dan seni hias rumah Toraja.


Ada juga suku yang bereksperimen dengan gerak-gerak tari (seperti suku Jawa, suku Sunda, suku Aceh, suku Melayu, suku Betawi, suku Dayak, suku Irian, dan lain-lain), sehingga mereka menciptakan tarian-tarian yang gerakannya indah dan eksotik.


Ada juga suku yang bereksperimen dengan irama-irama suara (hampir semua suku asli melakukannya), sehingga mereka menciptakan lagu-lagu bernada indah, menciptakan pantun-pantun berrima, menciptakan syair-syair, puisi-puisi, kakawin, cangkriman, dan lain-lain.


Semua suku asli Indonesia menghasilkan semua 'produk seni indah' itu bukan cuma untuk berindah-indah atau menikmatinya demi kesenangan mereka aja, tapi juga untuk beribadah, berhubungan dengan ruh-ruh nenek moyang (banyak tarian yang mereka ciptakan untuk menghadirkan ruh-ruh leluhur ke dunia), mengingat-ingat leluhur asli mereka, bahkan juga untuk mewariskan nilai-nilai leluhur (jadi, ada unsur edukatifnye, kayak sekolahan hehehe!). Produk pahat dan ukiran Mbis suku Asmat, misalnya, dibuat untuk memuja kesakralan leluhur; Tari Tunggal Penaluan suku Batak adalah tarian pemanggil kekuatan gaib dan penjemput roh-roh pelindung untuk hadir di tempat pemujaan; Gambar bulan dan matahari dalam pahatan Mbis, bukanlah mengekspresikan fenomena bulan dan matahari yang sempat ditangkap oleh mata telanjang manusia Asmat, tapi merepresentasikan Yang Ilahi. Gambar kemaluan lelaki yang dipahat pada pahatan Mbis suku Asmat, misalnya, dipahami sebagai lambang ‘kesuburan’: ‘Langit’ (yang dilambangkan dengan kemaluan lelaki) menurunkan hujan ke ‘Dunia’ (yang dilambangkan dengan kemaluan wanita) dan menyuburkannya, sehingga lahirlah tetumbuhan. Gambar wajah-wajah leluhur yang dipahat pada pahatan suku Asmat juga bukannya cuma dibuat untuk menirukan wajah fisikalnya, tapi untuk membangun hubungan antara ‘yang sementara’ dan ‘yang abadi’(Wiyoso Yudoseputra, Seni Pahat Irian Jaya, h. 59).


Genderang perunggu yang ditemukan di Babakan, di Selayar dan di Pejeng, seluruhnya indah dihias dengan gambar simbolik yang sama: burung pelikan atau bangau Cina. Burung pelikan adalah simbol Yang Ilahi; sesuatu yang terbang di Langit, berasal dari Langit, tempat dimana Yang Ilahi berada. Simbol itu sengaja digambar di atas genderang perunggu, karena sesuai dengan fungsi genderang itu, yaitu, ditabuh dan dipukul dalam upacara ‘minta hujan’. Hujan berasal dari atas, dari Langit, dan burung pelikan adalah ‘Burung Sakral’ dari Langit, yang dapat menyampaikan kepada Tuhan Di Langit untuk mengabulkan permohonan manusia di bumi, dengan menurunkan hujan, yang membawa kesuburan bumi (Jakob Sumardjo, Arkeologi Budaya Indonesia, hh. 116-119).


Gambar ‘perahu’ juga sering digambarkan pada arsitektur rumah di Toraja, rumah-rumahan perahu yang dilabuhkan ke laut pada upacara Labuhan di Jawa, Sunda dan Bali, kain-kain tenun di Lampung, bejana air di Minangkabau, hiasan kepala perempuan Lampung, ukiran kayu di Irian Jaya, perahu kayu di Batak-Karo, perahu kayu dan ukiran-ukiran kayu Beaju-Dayak, ukiran kayu di Alor, motif perahu pada batu nisan di Pulau Tanimbar, dan lain-lain, karena ‘perahu’ dipahami sebagai simbol kendaraan menuju ‘Alam Ruh’. Setiap orang mati, ruhnya akan berpindah ke ‘Lautan Ruh’, yang diantar dengan ‘Perahu’. Karena itu pulalah, orang Toraja menyebut keranda mereka dengan prau.


Tu kan? Gue bilang juga ape, leluhur kite rupanya dah punya estetika yang keren khan??

5 komentar:

areta mengatakan...

wah...
bangsa kita emang berjiwa seni...
gw suka tuh, ukir2an.
kalo untuk musiknya, jujur aja, susah menghayatinya. beda kuping kayaknya...

Ferry Hidayat mengatakan...

Ya, gue pikir juga wajar kalo kuping kamu ama kuping aku susah menghayati musik etnik. Memang kita udah 'beda kuping' dari nenek moyang kita. Beda selera juga. beda gaya. beda isi. beda banyak. Itu juga ngebuktiin bahwa kita dah jauh meninggalkan musik etnik. Agar musik etnik gak ketinggalan dengan musik modern, gue pikir musik etnik hrs beradaptasi ama alat-alat musik modern, seperti yang dah dilakuin ama Jaduk, Harry Roesli.

KlinikBahasa mengatakan...

Nice blog
please visit
http://www.myxango.com.sg/singapore/
thank you

Ayu mengatakan...

Wah, mas Ferry terima kasih atas artikel Estetikanya ^__^ !
Kebetulan saya sedang tertarik untuk membaca lebih jauh mengenai estetika. (Heheh, lagi cari 'pembelaan' aja dari ilmu ini, menurut para teman, selera saya agak 'ga biasa'. Menurut saya, ini salah satu kekurangan orang Indonesia zaman sekarang, mengekspresikan diri secara apa adanya aja selera langsung di cap 'ga biasa'. Setiap individu menurut saya punya selera keindahan yang berbeda satu sama lain). Selama ini selalu menemukan referensi bagus, tapi sayangnya ditulis dengan bahasa Inggris, (bisa jenuh tuh, kan butuh waktu untuk menerjemahkan, ilmu baru dapet setengah, udah 'ngos2an' duluan :D) si Aesthetics itu tuh...

Blog-nya bagus dan berisi.
paling kurang (banget) bagus untuk saya, sebelum melangkah lebih jauh menyelami filsafat karya orang barat, lebih baik memang menyelami filsafat karya nenek moyang, yang menurut saya pemikirannya lebih 'ramah' dan 'down to earth'.
Jujur saya suka agak 'serem' baca filsafat orang barat, jangankan filsafatnya, baru baca riwayat yang buat filsafatnya aja udah serem, heheh...

Sekali lagi terima kasih !

Ferry Hidayat mengatakan...

Dah baca bukunya Mudji Sutrisno yang judulnya 'Filsafat Seni' atau 'Filsafat Estetika'? Baca deh, itu satu buku filsafat estetika yang klasik banget yg ditulis pake bahasa indonesia.

 
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Indonesia To Blog -Top Site Literature blogs Top Blogs Philosophy Blogs - BlogCatalog Blog Directory KampungBlog.com  - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Indonesia To Blog -Top Site Literature blogs Top  Blogs