Rabu, 10 Oktober 2007

Sekilas Filsafat Etnis (Bag. 2)

2. Kosmologi
Kosmologi adalah sebuah cabang ilmu filsafat yang ngebahas tentang 'kosmos' atau alam semesta. Soal-soal seperti 'gimana sih asal mula adanya alam semesta?', 'apakah ia terjadi melalui penciptaan (dari tiada jadi ada, creatio ex nihilo) atau melalui pancaran (illuminatio), atau melalui cinta?', 'setelah semesta ada, apakah ia berkembang?, 'apakah semesta berkembang menuju satu tujuan akhir (teleologi), ataukah ia berkembang sendiri tanpa tujuan akhir?' dibahas di sini.
Para leluhur kita di masa neolitik udah mikirin gimana terjadinya alam semesta (termasuk kita, manusia). Mereka nyiptain mitologi-mitologi yang ngejelasin penciptaan alam semesta. Itu nunjukin bahwa leluhur kita gak goblok. Mereka udah gunain otak mereka untuk ngejelasin asal mula terjadinya alam semesta.
Sebenernya ada banyak versi mitologi penciptaan alam semesta yang berhasil gue temuin dari banyak suku asli Indonesia. Tapi karena blog ini cuma buat pengantar, jadi gue gak mau ngejelasin secara detil semua mitologi itu. Yang menurut gue cukup keren diungkap di sini ialah mitologi penciptaan alam semesta yang dimiliki suku Dayak-Benuaq dan suku Dayak-Tunjung di Pulau Kalimantan.
Seperti yang gue dah bilang sebelumnya, karena mereka belom mengenal bahasa tulisan, jadi mitologi yang keren ini belom dialihkan ke tulisan, jadi masih dinyanyiin. Beruntung seorang bule, namanya Michael Hopes, pernah meneliti mitologi ini dan mengalih-tulisanin mitologi yang hingga saat ini masih dinyanyiin itu. Gue beruntung nemuin tulisan die. Berikut ini adalah nyanyian suku Dayak-Benuaq & suku Dayak-Tunjung tentang asal mula terciptanya alam semesta, yang berhasil ditulis dalam bahasa Inggris oleh Michael Hopes, dalam bukunya Temputn: Myths of the Benuaq and Tunjung Dayak (1997):
In the beginning, before ever there was a world, there was a vast and empty space which was blacker than the darkest night. Within this space there was, it is said, a web which swayed slowly back and forth as though blown by a gentle breeze. Perched within this web was a giant bird called Beniak Lajang Langit-‘Wild Eagle of the Skies’. On the back of Beniak Lajang Langit there stood a spirit known as Wook Ngesok, his arms stretched out in front of him, his thumbs almost touching. On the left shoulder of Wook Ngesok was a place called Belikutn Tana, Bengkolokng Langit, literally, ‘A Handful of Earth; a Bulge of Sky’. Before and below this constricted place was one of Wook Ngesok outstretched arms, in the form of a long rock called Batuq Ding Dingkikng. On the right shoulder of Wook Ngesok was Tana Kuasa, Bengkolokng Tana, ‘The Land of Power, a Bulge of Earth’. In front of this place stretched the other long arm of Wook Ngesok in the form of a rock known as Batuq Rangkang Bulau…At Belikutn Tana, Bengkolokng Langit there grew eight Potukng Reyus trees and near them lived a family, eight generations of them together. The oldest couple were Itak (Grandmother) and Kakah (Grandfather) Jiur Jemputn (Black Shadow)…and finally, in the eighth generation, their son Imang Mengkelayakng… At Tana Kuasa, Bengkolokng Tana, there grew eight Nancang Suyatn trees, and by them dwelt another family, also of eight generations. The oldest couple were Itak (Grandmother) and Kakah (Grandfather) Diang Denapm (Blackest Darkness)…and finally, the child of the last couple, a woman named Lolang Kintang…so by chance the two (Imang and Lolang) met…they might as well marry…they live together…they made…a house which spanned the distance between the ends of the rocks, at the place thereafter called Batuq Ding Dingkikng Leputukng Rankang Bulau...
(Madrah & Karaakng 1997:20-29).
Ini terjemahannye dalam bahasa Indonesia:
…sebelum segalanya ada, terdapat suatu ruang kosong yang sangat luas yang gelapnya lebih pekat daripada malam. Di dalam ruang ini terdapat suatu sarang burung raksasa, yang melayang kesana-kemari, ditiup angin sepoi-sepoi. Di dalam sarang itu terdapat ‘Elang Raksasa Langit’ (Beniak Lajang Langit). Di atas pundak elang itu terdapat suatu ruh yang disebut Wook Ngesok. Wook Ngesok memiliki dua lengan berupa batu karang; lengan kanannya disebut Batuq Rangkang Bulau dan lengan kirinya disebut Batuq Ding Dingkikng.

Di bahu sebelah kiri Wook Ngesok terdapat suatu tempat yang disebut ‘segenggam bumi’ (Belikutn Tana) dan ‘segundukan langit’ (Bengkolokng Langit), sedangkan di bahu sebelah kanannya terdapat tempat yang disebut ‘tanah kekuasaan’ (Tana kuasa) dan ‘segundukan bumi’ (Bengkolokng Tana). Di tempat yang disebut ‘segenggam bumi dan segundukan langit’, tumbuhlah delapan batang pohon Potukng Reyus. Di dekat pepohonan itu, hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari delapan generasi; semuanya hidup dalam waktu yang bersamaan. Sedangkan di tempat yang disebut ‘tanah kekuasaan dan segundukan bumi’, tumbuhlah delapan batang pohon Nancang Suyatn. Di dekat pepohonan itu, hidup pulalah sebuah keluarga yang terdiri dari delapan generasi; semuanya juga hidup dalam waktu yang bersamaan. Generasi kedelapan dari keluarga yang hidup di bahu kiri Wook Ngesok adalah seorang lelaki bernama Imang Mengkelayakng, sementara yang hidup di bahu kanannya ialah seorang perempuan yang bernama Lolang Kintang. Mereka berdua menikah dan membangun sebuah rumah besar yang luasnya sebatas Batuq Rangkang Bulau dan Batuq Ding Dingkikng…
Abis alam semesta tercipta, maka manusia pun lalu tercipta. Gimana proses terciptanya manusia? suku Dayak-Benuaq nganggap manusia sekarang adalah keturunan dari dua keluarga yang pertama kali hidup di bahu kanan dan di bahu kiri suatu roh yang disebut ‘Wook Ngesok’. Generasi kedelapan dari keluarga yang tinggal di bahu kanan adalah seorang gadis bernama Lolang Kintang, sedangkan generasi kedelapan dari yang tinggal di bahu kiri adalah seorang perjaka bernama Imang Mengkelayakng. Gadis dan perjaka itu kemudian menikah dan beranak-pinak.
Walaupun waktu itu bumi dan langit telah diciptakan, trus dipisah oleh ‘Sang Ibu Pintar Lidah’ (Ayakng Siluq Urai) dan ‘Sang Putra Bijak Pertimbangan’ (Tataau Junyukng Ayus), tapi semua keturunan Imang lebih suka hidup di langit dan tak satupun yang mau hidup di bumi. Menyadari hal itu, maka ‘Sang Ibu Pintar Lidah’ dan ‘Sang Putra Bijak Pertimbangan’ mengumpulkan sisa-sisa bahan dari pembuatan bumi dan langit, lalu mereka menyuruh ‘Sang Putri Komakng Lolakng’ dan Potek Telose Sie untuk membuat suatu sosok manusia dari sisa bahan langit dan bumi tadi, yakni, manusia yang kelak mau mendiami bumi. ‘Sang Putri Komakng Lolakng’ dan Potek Telose Siepun membuatnya. Abis itu, sosok manusia itu ditempatkan di dalam segulung kain, lalu digoyang-goyang ke kiri dan ke kanan dan menghadap matahari terbit. Tiba-tiba sosok manusia itu ngegerak-gerakin tangan dan kakinya, lalu mengeluarkan suara seperti suara nyamuk. Lama-lama, sosok itu berubah bentuk dan kian besar, mulai bisa duduk dan ketawa, lalu berdiri dan berjalan, dan akhirnya ia bisa ngomong. Manusia pertama yang mendiami bumi adalah seorang berkelamin lelaki yang diberinama ‘Tamarikukng Langit’.
Tamarikukng hidup sendirian di bumi. Suatu hari, terbersit satu gagasan dalam benak Tamarikukng untuk mendapatkan seorang teman. Die matahin salah satu tulang iga sebelah kirinya sendiri, lalu melemparnya ke arah bahu kanannya. Sejak itu, Tamarikukng tidak mengetahui kemana perginya tulang iganya itu. Abis tujuh hari ngitarin bumi sendirian, nampaklah sesosok wanita di kejauhan. Wanita itu sedang dalam posisi merangkak, kaki dan tangannya masih menempel di dalam tanah, di tempat ia tumbuh. Wanita itu bernama Ape Tempere. Tidak sabar untuk memperistrinya, Tamarikukng mencoba menarik Ape dari tanah, tapi tak berhasil, lalu ia memotong tangan dan kaki Ape dengan pisaunya. Setelah berhasil mendapatkan Ape, Tamarikukngpun membersihkan sisa tanah yang masih menempel di tangan dan kaki Ape, yaitu, tanah yang belum menjadi daging sempurna. Tanah itu kemudian disebut ‘Tanah Putus Mate’ (Tanah yang Meniscayakan Kematian). Lantaran tanah itu tidak dibiarkan berubah menjadi daging, maka manusia sejak itu mengalami kematian. Jika Tamarikukng sabar menunggu tanah itu menjadi daging Ape yang sempurna, maka keturunan mereka pasti tidak mengalami kematian. Karena itu pulalah, jika manusia mati, ia harus dikubur di dalam tanah, untuk kembali ke asalnya semula.
(Michael Hopes, Madrah & Karaakng, h. 20-31)

Keren kan? Bukan hanya suku Dayak aje yang punya kosmologi; suku Batak juga punya. Nih coba simak:

Pada mulanya tidak ada apa-apa. Di atas sana, di suatu ruang yang amat jauh, yang tidak nampak oleh penglihatan dan tidak disangka-sangka manusia, duduklah Debata, ‘Mula jadi na bolon’, sang dewa pencipta. Pada mulanya tidak ada apa-apa di bawah tempat Debata, ‘Mula jadi na bolon’, duduk itu. Yang ada hanya kehampaan yang sangat, yang diliputi oleh lautan luas dan alam arwah (netherworld), hanya ada kehitaman yang pekat, kesunyian yang amat senyap, tidak ada suara manusia, tidak ada suara binatang, apalagi suara desir angin yang berhembus. Ombak di lautan bergulung-gulung tanpa suara; tidak ada pantai yang dapat mencegah gulungannya. Hanya ada satu makhluk hidup yang diperkenankan untuk menemani kesunyian sang keabadian yang Maha Kuasa—manuk-manuk, yaitu ayam berbulu biru. Manuk-manuk ini, sang isteri dewa, menetaskan tiga telur dan dari ketiganya lahirlah tiga dewa: Batara Guru, Soripada, dan Mangala Bulan. Batara Guru pun menciptakan dunia dan manusia…

(Mochtar Lubis, Indonesia: Land under the Rainbow, Oxford, New York, Singapore: Oxford University Press, 1990, h. xiii)

Suku Dusun di Borneo juga punya kosmologi. Nih coba baca:

Pada mulanya terdapat satu batu karang di tengah laut. Pada waktu itu, belum ada tanah (bumi), yang ada hanyalah air. Batu karang itu membuka mulutnya, lalu keluarlah darinya seorang lelaki dan seorang perempuan. Mereka berdua pun menoleh ke kanan ke kiri, yang ada hanyalah air. Si perempuan lalu berkata kepada si lelaki, ‘Bagaimana bisa kita berjalan, sedangkan tanah (bumi) tidak ada di sini?’ Mereka menuruni batu karang dan mencoba menapaki permukaan air laut. Merekapun berjalan di atas air laut itu. Setelah itu, mereka kembali ke batu karang, lalu mencoba berpikir; mereka tinggal lama di karang itu; kemudian mereka berjalan lagi di atas air hingga mereka sampai ke tempat Bisagit, si ruh penyakit cacar. Bisagit telah membuat tanah (bumi), walaupun tempatnya sangat jauh dari tempat mereka.

…. Keduanya berkata kepada Bisagit dan meminta darinya segenggam tanah, ia pun memberi mereka tanah. Setibanya mereka di batu karang, mereka mencampur tanah itu dengan batu karang, sehingga karang itu menjadi tanah. Kedharingan lalu menciptakan suku Dusun, sementara istrinya Munsumundok menciptakan langit. Setelah itu, mereka berdua menciptakan matahari, lantaran tidak baik bagi manusia untuk berjalan tanpa cahaya. Lalu Munsumundok berkata, ‘Di malam hari, kita tidak memiliki cahaya. Mari kita ciptakan bulan,’ lalu merekapun menciptakan bulan dan tujuh bintang, gugusan bintang blatek dan kukurian…

(Ivor H.N. Evans, Among Primitive People in Borneo, Singapore: OUP, 1990, h. 175)

Suku Tolaki di Sulawesi juga punya kosmologi. Nih baca lagi neh!

Sebelum terjadinya alam…, maka yang ada hanya ruang kosong, tak ada apa-apa di dalamnya. Pada suatu ketika o ombu menciptakan o ngga (terang, cahaya). O ombu memandang o ngga, yang mengakibatkan o ngga menjadi panas, maka terjadilah o api (api, panas). O ombu memandang kepada o api, yang mengakibatkan o api menjadi oleo (matahari). O ombu memandang kepada oleo, yang mengakibatkan oleo bergerak. Gerakan oleo inilah kemudian yang menimbulkan o pua (angin). Selanjutnya o ombu menutup mata maka terjadilah gelap segala yang terang. Gelap inilah yang menjadikan o wingi (malam). Terjadilah siang dan malam. Kemudian o ombu mengupas dakinya dan menggulungnya menjadi gumpalan dan dilemparkannya ke bawah dan itulah yang kemudian menjadi wuta’aha (tanah yang luas, bumi). O ombu mencabut beberapa lembar rambut dan bulunya dan dilemparkannya ke wuta’aha dan itulah yang kemudian menjadikan tumbuh-tumbuhan di wuta’aha; sesudah itu o ombu mengeluarkan beberapa kutunya dan dilemparkannya ke atas wuta’aha dan itulah yang kemudian menjadikan hewan-hewan di wuta’aha. Agar tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan dapat hidup di atas wuta’aha, o ombu membuang kencingnya dan itulah yang kemudian menjadikan hujan. Segala peristiwa kilat dan guntur serta apa yang dinamakan o lelu (gempa bumi) adalah wujud dari o ombu yang menggerakkan dirinya.

(Abdurrauf Tarimana, Kebudayaan Tolaki, Jakarta: Balai Pustaka, 1993, cet-2, h. 217-8)

Tuh kan, gimana menurut lo lo pade? Leluhur kita jago juga kan ngejelasin asal mula semesta ini. Ya gak. Ya gak??


10 komentar:

Ferry Hidayat mengatakan...

As I promised u before, here it is another posting about cosmology. I hope u enjoy reading it, my sista! Keep on commenting critically, OK?

areta mengatakan...

makasi, my bro...
posting yang satu ini menarik sekali.
bener deh, gak ada bosennya baca hasil pemikiran moyang2 kita itu..
meskipun kita udah punya kitab suci, buku geografi, buku fisika, buku sejarah, dan segala buku2 yg ngejelasin proses penciptaan itu, tetep ajah menarik.
eh, beberapa ceritanya mirip dengan kitab suci lho!

o0m guru, saya ada pertanyaan..
kata2 berakhiran "kng" seperti "Dingkikng" tuh bacanya gimana?

Ferry Hidayat mengatakan...

Aduh kamu makin cerdas aja deh :-) Benar, areta. Mitologi dari suku-suku asli kita ada yang mirip ama ayat-ayat atau pasal-pasal kitab suci agama besar dari Timur Tengah (Yahudi, Kristianitas, Islam). Bahkan kalo adik rajin membedah-bedah isi kitab suci banyak agama, makin banyak deh kesamaan yang kita dapetin di antara semua kitab suci agama-agama itu. Mungkin, ini ngebuktiin bahwa Tuhan memang gak mau biarin manusia jadi sesat, jadi dia membimbing manusia dari segala bangsa dan segala tempat dan segala waktu, lalu mengilhami sebagian orang dari segala bangsa yang berhati suci untuk mengabarkan wahyu Tuhan kepada manusia.

yang berakhiran "kng" dibaca aja "keng", sebab katanya orang Dayak selalu mengakhiri kalimat mereka dengan "ng". Mereka gak bisa bilang "n". Lucu ya??

areta mengatakan...

owh... "keng" tho..
ampe keseleo2 ni lidah ngebacain itu. hehehe...

yuk ah...
kayak salah satu sila Pancasila kite "Ketuhanan Yang Maha Esa".
sayangnya manusia suka mengotak2an dan akhirnya bikin perpecahan. ada juga yang sangking kreatifnya suka bikin aliran2 sendiri...

areta mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Ferry Hidayat mengatakan...

Kayak Al-Qiyadah yach??

Ayu mengatakan...

Waktu membaca bagian yang menjabarkan mitologi penciptaan alam semesta suku Dayak-Benuaq dan suku Dayak-Tanjung di pulau Kalimantan, saya tertarik dengan kata 'Elang Raksasa Langit' (Beniak Lajang Langit).
Seingat saya, memang ada fenomena nebula (kumpulan gas dan debu di ruang angkasa)yang membentuk kepala burung, dalam bahasa Inggris sering disebut Eagle nebula (ada Horse-head nebula, Lagoon nebula, tergantung bentuk nebula diiterpretasikan mirip seperti apa oleh manusia).
Apa suku Dayak juga sudah melihat dan mengenal fenomena nebula ?
mengingat di zaman itu belum ada polusi, Heheh... jadi langit malamnya pasti keren banget !
Kalau memang yang dimaksud suku Dayak itu Eagle nebula, Wah ! kagum deh♥, cermat banget penilaiannya (Lha wong orang barat aja juga menamakannya Eagle nebula.
Well?
I'm expecting some responses.

Ferry Hidayat mengatakan...

Wah dahsyat tuh! Aku juga baru tahu loh Ayu info itu. Thanks!

Rehabilitations and Wetland by Freddy Lingga mengatakan...

saya bukan orang dayak,tapi sudah bagian dari keluarga Dayak,aku sangat terkesan atas tulisannya,untuk menambah wawasan kita tentang Etnis yang ada di nusantara,Adat,budaya dan agama seharusnya berjalan berdampingan.
salam
Freddy Lingga

Bern Tucx mengatakan...

Coba baca disini http://kebudayaan-dayak.org/index.php?title=Zaman_Jaheliah lanjut

http://kebudayaan-dayak.org/index.php?title=Zaman_Batu_Basusutn


itu adalah sastra lisan (Kisah turun temurun) Dayak kalbar, mengenai keturunannya, dari adam ke Nabi Nuh dan dari Nuh ke Yafet (nama Dayaknya=MALET) lalu melalui bungsu anak Yafet yg bernama TIRAS (nama Dayaknya=Rihipm) lah nenek moyang Dayak berasal, dalam sejarah disebutkan bahwa bahwa penduduk indonesia adalah ras melayu, MELAYU TUA = nias batak, Dayak, minahasa dll datang kuranglebih tahun 2000 SM (duaribu sebelum mashi)dan MELAYU MUDA=jawa, sunda, bugis, melayu dll datang tahun 300 sm (tigaratus sebelum masehi).
BACA DISINI= http://sejarah-interaktif.blogspot.com/2011/12/asal-usul-dan-persebaran-nenek-moyang.html


Moyang Dayak yg bernama Galeber berasal dari BINUA AYA (KERAJAAN/NEGERI BESAR) YAITU BABILONIA, GALEBER INI hidup sejaman Nabi Ibrahim, galeber dan saudara-saudara dan sepupunya meninggalkan Babilonia setelah sodom (dalam sastra lisan Dayak disebut KAYU SAMPONGAN dan gomora dalam sastra lisan Dayak disebut PENTEK KAYU MATI, dihancurkan Tuhan. dalam cerita mereka datang ke kalimantan bagian barat WAKTU ITU PULAU KALIMANTAN BELUM ADA MANUSIANYA....sampai dikalimantan mereka masih menjalankan AGAMA JAMAN IBRAHIM inilah agama asli Dayak, di kalimantan keturunan mereka juga membangun banyak PADAGI/PANYUGU = MEZBAH AGAMA JAMAN IBRAHIM.

sejarah yang memperkirakan bangsa MELAYU TUA datang sekitar tahun 2000 sm itu ternyata benar adanya, karena jaman Ibrahim di PERKIRAKAN tahun 1900-an SM. keturunan-keturunan keluarga GALEBER INILAH yang menyebar ke seluruh Kalimantan yang MEMBENTUK STANMENRAS DAYAK KLEMANTAN, DAYAK IBAN,rumpun Dayak Murut, DAYAK UUD DANUM/ NGAJU DAN PUNAN, kelak sebagian dari RUMPUN/STANMENRAS PUNAN berasimilasi dengan puak Dayak asal Yunan MELAHIRKAN RUMPUN DAYAK APAUKAYAN (kenyah, KAYAN, BAHAU), sebagian dari RUMPUN UUD DANUM/NGAJU berasimilasi dengan PUAK DARi YUNAN yang masuk dari arah selatan MEMBENTUK SUKU DAYAK MA'ANYAN.


ANAK CUCU TIRAS TIDAK DISEBUTKAN DALAM ALKITAB DAN ALQURAN, TAPI DISEBUTKAN DALAM SASTRA LISAN DAYAK. CATATAN TERTULIS HANYA TERDAPAT PADA KITAB YOBEL YAHUDI, TAPI TIDAK DISEBUTKAN NAMA-NAMA ANAK TIRAS, KITAB YOBEL HANYA MENYEBUTKAN ANAKCUCU TIRAS BANYAK BERMUKIM DISEBERANG LAUTAN. (jadi di sini termasuk orang Dayak, Indian) dan yang dieropa MEREKA ADALAH TROY, TROJAN dan bangsa-bangsa sakti di eropa lainnya dan yg menarik......dalam sejarah kebanyakan keturunan anak cucu TIRAS banyak yg mentato tubuhnya.

OYA...HAMPIR LUPA,SEDIKIT MENJELASKAN KATA-KATA KNG ITU TIDAK DIUCAPKAN KENG, MISAL kata Dingkikng, bagi anda yang tidak bisa logat Dayak, baca saja DINGKING, karena "K" disitu berfungsi sebagai penekan saja. MISAL KATA ITAPM baca saja itam, misal kata IKATN baca saja IKAN, MISAL KATA DAYAKNG BACA SAJA DAYANG.

 
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Indonesia To Blog -Top Site Literature blogs Top Blogs Philosophy Blogs - BlogCatalog Blog Directory KampungBlog.com  - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Indonesia To Blog -Top Site Literature blogs Top  Blogs